Distribusi Laba untuk Zakat – Akuntansi Syariah

Distribusi Laba untuk Zakat – Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat merupakan kata dasar (masdar) dari zakat yang berarti berkah, tumbuh, bersih, dan baik (Qardhawi, 2007;36), sesuai dengan firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 103:

(QS. 9:103)

Artinya: “ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. 9:103)

Menurut istilah fikih, zakat berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak (Qardawi, 2007; 36). Menurut Qardawi (2007;36) Nabi Muhammad S.A.W. telah menegaskan di Madinah bahwa zakat itu wajib serta telah menjelaskan kedudukannya dalam Islam.

Zakat adalah  salah satu rukun Islam yang utama, yaitu rukun Islam yang ketiga. Di dalam beberapa
hadis lain Rasulullah mengancam orang-orang yang tidak membayar zakat dengan hukuman berat di akhirat.
Menurut Qadrawari (2007;122), terdapat beberapa jenis kekayaan yang disebutkan dan diperingatkan Al-Quran untuk dikeluarkan zakatnya sebagai hak Allah, yaitu:
1.Emas dan perak, dalam firman Allah Surah At-Taubah ayat 34 yang artinya“Orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak membelanjakannya buat jalan Allah, sampaikanlah kepada mereka berita gembira tentang azab yang sangat pedih”. (Q.S.9:34)

2.Tanaman dan buah-buahan, yang dinyatakan oleh Allah dalam Al-Quran Surah Al-Anam ayat 41 yang artinya, “Makanlah sebagian buahnya bila berbuah dan bayarlah hak tanaman tiu waktu menanamnya” (Q.S. 6:141)

3.Usaha, misalnya usaha dagang dan lain, firman Allah Al-Baqarah ayat 276 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, keluarkanlah sebagian yang baik dari penghasilanmu” (Q.S. 2;276)

Sering Di Baca :  Distribusi Laba untuk Pemilik Dana

4.Barang-barang tambang yang dikeluarkan dari perut bumi.

Seseorang yang memiliki kekayaan perdagangan, masanya sudah berlalu setahun, dan nilainya sudah sampai senisab pada akhir tahun itu, maka orang itu  wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5%, dihitung dari modal dan keuntungan.

Banyak hikmah yang akan diperoleh dari kewajiban zakat, yaitu bahwa agama ingin menciptakan zakat menjadi faktor pendorong yang akan menggiring secara  tidak langsung orang-orang pemilik uang menginvestasikan dan mengeksploitasikan uangnya itu pada kegiatan yang halal dan usaha yang legal. Dengan demikian terlepaslah mereka dari dosa sebagai penimbun-penimbun kekayaan yaitu orang- orang yang menghentikan dan menghambat pemungsian kekayaan.

Untuk perusahaan, zakat didasarkan pada prinsip keadilan serta hasil ijtihad para fuqaha. Oleh sebab itu, zakat agak sulit ditemukan pada kitab fikih klasik. Kewajiban zakat perusahaan lainnya hanya ditujukan kepada perusahaan yang dimiliki (setidaknya mayoritas) oleh muslim. Sehingga zakat ini tidak ditujukan pada harta perusahaan yang tidak dimiliki oleh muslim. (Syafei, 2008 dalam Nurhayati, 2009; 285).

Hal tersebut dikuatkan oleh keputusan seminar I zakat di Kuwait, tanggal 3 April 1984 dalam Nurhayati (2009;285) tentang zakat perusahaan sebagai berikut:

a.Zakat perusahaan harus dikeluarkan jika syarat berikut terpenuhi:

  • Kepemilikan dikuasai oleh muslim/muslimin
  • Bidang usaha harus halal
  • Aset perusahaan dapat dinilai
  • Aset perusahaan dapat berkembang
  • Minimal kekayaan perusahaan setara dengan 85 gram emas

b.Syarat teknisnya sebagai berikut:

  • Adanya peraturan yang mengharuskan pembayaran zakat tersebut
  • Anggaran dasar perusahaan memuat hal tersebut
  • RUPS mengeluarkan keputusan yang berkaitan dengan hal itu
  • Kerelaan para pemegang saham menyerahkan pengeluaran zakat sahamnya kepada dewan direksi perusahaan.

Perhitungan zakat perusahaan ada 3 pendapat (Syafei, 2008 dalam Nurhayati 2009:285), yaitu:

  1. Kekayaan perusahaan yang dikenakan zakat adalah kekayaan perusahaan yang digunakan untuk memperoleh laba. Pendapat ini dikemukakan oleh Qardhawi, dan zakat dikenakan pada harta lancar bersih perusahaan.
  2. Kekayaan yang dikenakan zakat dalah pertumbuhan modal bersih. Pendapat ini dikemukakan oleh El Badawi dan Sultan. Metode ini disusulkan untuk mengatasi kelemahan pada metode pertama disebabkan  transaksi perusahaan semakin kompleks.
  3. Kekayaan   yang   dikenakan   zakat   adalah   kekayaan   bersih perusahaan.
Sering Di Baca :  Sumber Modal Kerja

Pendapat ini dikemukakan oleh Lembaga Fatwa Arab Saudi.
Metode apa saja boleh digunakan walaupun yang paling sederahana untuk digunakan adalah pendapat Qardhawi. Sedangkan nisab zakat adalah 85 gram emas dan cukup haul (1 tahun qamariah) dengan besar zakat 2.5%. jika perusahaan menggunakan tahun masehi, maka besar zakat adalah 2.575% (standar AAOIFI).

Demikian pembahasan tentang Distribusi Laba untuk Zakat – Akuntansi Syariah. Semoga bermanfaat.

Frenky

Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Meski kadang tak mengerti alasannya.

Menarik Lainya...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: