Pengertian Manajemen Laba dan Faktor Pendorongnya

Manajemen Laba – Penyerahan wewenang dari prinsipal kepada agen dalam pengelolaan dan pengambilan kebijakan perusahaan dapat memperbesar peluang terjadinya pendahuluan kepentingan yang dilakukan oleh manajer. Hal ini dikarenakan manajer memiliki tanggungjawab moral untuk melaporkan perkembangan perusahaan yang postitif kepada pemilik perusahaan yang digambarkan melalui laporan keuangan perusahaan.

Berbagai cara dapat dilakukan oleh manajer untuk memberikan indikasi yang posititf melalui laporan keuangan. Tindakan manajemen untuk memanipulasi laporan keuangan tersebut dikenal dengan manajemen laba (earning management).

Istilah manajemen laba mulai menarik perhatian para peneliti, khususnya peneliti akuntansi, karena sering dihubungkan dengan perilaku manajer atau para pembuat laporan keuangan. Manajemen laba (earning management) sendiri merupakan usaha pihak manajer yang disengaja untuk memanipulasi laporan keuangan dalam batasan yang dibolehkan oleh prinsip-prinsip akuntansi dengan tujuan untuk memberikan informasi yang menyesatkan para pengguna laporan keuangan untuk kepentingan pihak manajer (Muetia, 2004).

Copeland (1968 :10) dalam Utami (2005) mendefinisikan manajemen laba sebagai, “some ability to increase or decrease reported net income at will”. Ini berarti bahwa manajemen laba mencakup usaha manajemen untuk memaksimumkan atau meminimumkan laba, termasuk perataan laba sesuai dengan keinginan manajer.

Scott (2000) dalam Rahmawati dkk. (2006) membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua.

  • Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang, dan political costs (opportunistic earnings management).
  • Kedua, dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting (efficient earnings management), dimana manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai pasar perusahaannya melalui manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba (income smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu. 

 

Pengertian Manajemen Laba menurut ahli

Berikut ini pengertian manajemen laba menurut para ahli :

  • Definisi atau Pengertian manajemen laba menurut Schipper (1989) dalam Rahmawati dkk. (2006) yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan tujuan tertentu dalam proses pelaporan keuangan eksternal, untuk memperoleh beberapa keuntungan privat (sebagai lawan untuk memudahkan operasi yang netral dari proses tersebut).
  • Definisi atau Pengertian manajemen laba menurut Assih dan Gudono (2000) manajemen laba adalah suatu proses yang dilakukan dengan sengaja dalam batasan General Addopted Accounting Principles (GAAP) untuk mengarah pada tingkatan laba yang dilaporkan.
  • Definisi atau Pengertian manajemen laba menurut Fischer dan Rozenzwig (1995) manajemen laba adalah tindakan manajer yang menaikkan (menurunkan) laba yang dilaporkan dari unit yang menjadi tanggung jawabnya yang tidak mempunyai hubungan dengan kenaikan atau penurunan profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang.
  • Definisi atau Pengertian manajemen laba menurut Healy dan Wallen (1999) manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan judgement dalam laporan keuangan dan penyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan, sehingga menyesatkan stakeholders tentang kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil yang berhubungan dengan kontrak yang tergantung pada angka akuntansi
  • Definisi atau Manajemen laba adalah campur tangan dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri. Manajemen laba adalah salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, manajemen laba menambah bias dalam laporan keuangan dan dapat mengganggu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa (Setiawati dan Na’im, 2000 dalam Rahmawati dkk, 2006).
  • Definisi atau pengertian manajemen laba Menurut Schipper (1989) menyatakan bahwa manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan tujuan tertentu dalam proses pelaporan keuangan eksternal, untuk memperoleh beberapa keuntungan (sebagai lawan  untuk memudahkan operasi yang netral dari proses tersebut).Manajemen laba diduga muncul atau dilakukan oleh para manajer atau para pembuat laporan keuangan dalam proses pelaporan keuangan suatu organisasi karena mereka mengharapkan suatu manfaat dari tindakan yang dilakukan. Manajemen laba merupakan tindakan manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan sehingga dapat menaikkan atau menurunkan laba akuntansi sesuai dengan kepentingannya.
Sering Di Baca :  Faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja

Manajemen laba merupakan area yang kontroversial dan penting dalam akuntansi keuangan. Manajemen laba tidak selalu diartikan sebagai suatu upaya negatif yang merugikan karena tidak selamanya manajemen laba berorientasi pada manipulasi laba. Manajemen laba tidak selalu dikaitkan dengan upaya untuk memanipulasi data atau informasi akuntansi, tetapi lebih condong dikaitkan dengan pemilihan metode akuntansi yang secara sengaja dipilih oleh manajemen untuk tujuan tertentu dalam batasan GAAP.

Pihak-pihak yang kontra terhadap manajemen laba, menganggap bahwa manajemen laba merupakan pengurangan dalam keandalan informasi yang cukup akurat mengenai laba untuk mengevaluasi return dan resiko portofolionya (Ashari dkk, 1994 dalam Assih, 2004).

Pengertian Manajemen Laba menurut ahli

Faktor-faktor pendorong manajemen laba

Dalam Positif Accounting Theory terdapat tiga faktor pendorong yang melatarbelakangi terjadinya manajemen laba (Watt dan Zimmerman, 1986), yaitu:

1.   Bonus Plan Hypothesis

Manajemen akan memilih metode akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya yaitu bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan laba lebih banyak menggunakan metode akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan.

2.   Debt Covenant Hypothesis

Manajer perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian kredit cenderung memilih metode akuntansi yang memiliki dampak meningkatkan laba (Sweeney, 1994 dalam Rahmawati dkk, (2006). Hal ini untuk menjaga reputasi mereka dalam pandangan pihak eksternal.
Baca  Kelemahan Activity Based Costing systems

3.   Political Cost Hypothesis

Semakin besar perusahaan, semakin besar pula kemungkinan perusahaan tersebut memilih metode akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut dikarenakan dengan laba yang tinggi pemerintah akan segera mengambil tindakan, misalnya: mengenakan peraturan antitrust, menaikkan pajak pendapatan perusahaan, dan lain-lain.
Demikianlah definisi pengertian manajemen laba menurut para ahli

Manajemen laba merupakan fenomena yang sukar dihindari karena merupakan dampak dari penggunaan dasar akrual dalam penyusunan laporan keuangan.  Pada  tahun  1998  sampai  dengan  2001  tercatat  telah  banyak terjadi

Sering Di Baca :  Unsur-unsur Modal Kerja

skandal keuangan di perusahaan-perusahaan publik di Indonesia dengan melibatkan persoalan laporan keuangan yang telah diterbitkannya,  seperti kasus PT Lippo dan PT Kimia Firma Tbk (Boediono, 2005). Selanjutnya pada skandal Enron, Worldcom dan perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat terlibat dalam rekayasa laporan keuangan millyaran dollar AS. Hal ini membuktikan bahwa manajemen laba sangat mungkin terjadi dalam perusahaan  apabila mengacu pada sistem pengelolaan perusahaan yang memisahkan tugas dan fungsi pemilik dengan manajer.

Utami (2005) melakukan studi kompratif internasional tentang manajemen laba di beberapa negara dan Indonesia merupakan negara yang paling besar tingkat manajemen labanya. Adanya bukti empirik bahwa tingkat manajemen laba emiten di Indonesia relatif tinggi dan tingkat proteksi terhadap investor lemah, menimbulkan pertanyaan apakah investor mempertimbangkan besaran akrual (proyeksi manajemen laba) dalam menentukan tingkat imbal hasil saham yang disyaratkan. Tingginya tingkat manajemen laba di Indonesia mengindikasikan tidak tepatnya sistem pengelolaan perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Manajemen laba sendiri muncul karena adanya konflik kepentingan antara pemilik perusahan dengan manajemen. Pemilik perusahaan tentu mengharapkan keuntungan atas investasi yang telah dikeluarkannya untuk membiayai dan mengembangkan perusahaan. Pemilik perusahaan cenderung untuk memperkaya diri sendiri. Sedangkan manajer diserahi wewenang untuk mengambil keputusan dan kebijakan dalam menjalankan perusahaan. Karena tekanan dari pemilik  perusahaan tersebut,  manajer  melakukan  manajemen  laba dengan    cara    memberikan    laporan    keuangan    perusahaan    yang    tidak menggambarkan kondisi perusahaan yang sebenarnya.

Tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh manajer dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor permintaan untuk pendanaan eksternal, insider trading, hutang, bonus atau struktur perusahaan.

Teknik dan pola manajemen laba menurut Setiawati dan Na’im (2004, h.47) dapat dilakukan dengan tiga teknik:

Sering Di Baca :  Manfaat Modal Kerja

1.Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi

Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgment (perkiraan) terhadap estimasi akuntansi antara lain estimasi  tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi, dan lain-lain.

2.Mengubah metode akuntansi

Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh: merubah metode depresiasi aktiva tetap, dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus

3.Menggeser periode biaya atau pendapatan

Contoh rekayasa periode biaya atau pendapatan lain: mempercepat/menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sampai pada periode akuntansi berikutnya, mempercepat/menunda pengeluaran promosi sampai periode berikutnya, mempercepat/menunda pengiriman produk ke pelanggan, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah disepakati.

Motivasi untuk melakukan manajemen laba menurut Stice & Skousen (2004, h.421) antara lain:
(1) memenuhi target internal (target laba dan target penjualan);
(2) memenuhi harapan eksternal (stakeholders);
(3) meratakan atau memuluskan laba (income smoothing);
(4) mendandani angka laporan keuangan (window dressing) untuk penjualan saham perdana (IPO) atau memperoleh pinjaman.

Demikian artikel definisi atau Pengertian Manajemen Laba, Faktor-faktor pendorong manajemen laba, Pengertian, Faktor Pendorong Manajemen Laba, semoga bermanfaat.

Frenky

Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Meski kadang tak mengerti alasannya.

Menarik Lainya...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: